Medioker. Aku pria biasa, yang dapat kau jumpai di mana saja. Akan tetapi kalau kau mencariku, hanya ada satu aku di sini. Aku memandang hidup sebagai sebuah keajaiban. Fluktuasi memang. Dari sekian banyak probabilitas, seharusnya kehidupan itu antara ada dan banyak atau tidak ada sama sekali. Anehnya, selama ini manusia mencari, belum ditemukan lagi selain di bumi. Berbekal dasar tadi, menurutku keberadaanku adalah anugerah. Alhamdulillah kehidupanku sampai saat ini relatif bahagia. Tak terlalu banyak kesulitan dan drama yang dirasa. Akan tetapi, bukan itu yang membuatku memandang hidup sebagai pemberian. Karena, sebagaimana kamu, aku pun merasakan kesal, jenuh, disorientasi dan berbagai perasaan negatif lainnya. Mengherankan memang. Dengan hidupku yang begini, masih saja aku merasa kurang. Ajaibnya bahkan yang hidupnya "lebih baik" dariku pun tetap saja ada yang merasa kurang. Aku sendiri seandainya dapat memilih, cenderung pada ketiadaan. Sungguh hidup ini terasa berat bag...